Antara Dua Cinta

Antara Dua Cinta
By: Fauzan
Bergetar dan bersuaralah hp Chevi yang dia simpan di atas meja dekat ranjang tidurnya, tak lama diapun terbangun dari taman bunga tidurnya, dan lekas mengambil hpnya, pluk!!! Yang ini suara cicak jatuh dari dinding kamar karena kaget denger suara hpnya Chevi.
Chevi melihat jam dinding tepat di atas cicak itu jatuh, (gak penting benget deh!) waktu menunjukkan pukul 22.30 wib (waktu indonesia bagian Bandung, soalnya dia lagi ada di Bandung), lantas dia buka hpnya dan dia baca ada satu panggilan masuk dan satu sms, dia tidak tahu siapa yang hendak menghubunginya tapi kayaknya itu MD (missed call doank), Chevipun membaca smsnya.
“Ass,,,pha kabarnya?msih inget gak ma aku si Dewi tea?”, itulah sepengal sms yang dia terima. Sejenak dia mengingat nama Dewi sampai akhirnya dia ingat bahwa yang mengirim sms itu mungkin adalah Dewi teman sewaktu di SMP dulu. Tanpa berpilir panjang lagi diapun membalas sms dari Dewi, namun sayang seribu kali sayang, pesan yang dia kirim gagal terkirim, dia baru sadar bahwa pulsa di hpnya sudah habis dipake nelpon bapaknya di kampung tadi sore. Akhirnya diapun kembali tidur tanpa membalas sms dari Dewi.
***
Hari ini kamis pertama di bulan Februari untuk kedua kalinya Dewi mencoba menghubungi Chevi, kali ini telepon dari Dewi dijawab oleh Chevi, “Assalamualaiku! Maaf ini sama siapa ya?”, Chevi mengawali perbincangannya di telepon (Chevi pura-pura gak tahu padahal nomor Dewi sebelumnya udah di save).
“Ini Dewi, benerkan ini sama Chevi?”, Dewi mencoba mengklarifikasi, (ceilee klarifikasi, bahasanya!!!kayak berita di infotainment ajah).
“Oh Dewi!!!” (pura-pura kaget) “Iya,,,iya,,,ini Chevi! Dewi apa kabar, kamana wae atuh?”, berbasa-basi menanyakan kabar Dewi dengan gaya khas bahasa Sunda. (Kamana atuh gaya?!!!).
“Alhamdulillah sae,,,Chevi gimana kabarnya?, denger-denger Chevi dapet beasiswa di Bandung? Mudah-mudahan kuliahnya lancar terus”.
“Alhamdulillah, Amiin…Dewi sekarang gimana sama kuliahnya?, by the way, tokorode, ngomong-ngomong…kuliah dimana?”.
“Dewi untuk tahun ini masih nganggur Chev, Insya Allah tahun depan Dewi coba daftar UMPTN lagi, doain mudah-mudahan tahun depan Dewi bisa kuliah?”.
“Amiin”.
“Oh iya Chevi sekarang lagi dimana?”.
“Lagi di kampus Wi !”.
“Aduh…kalo gitu Dewi ganggu donk”.
“Ah…gak kok! Lagian baru ajah bubaran”.
“Kalo gitu, udah dulu ya Chev, takutnya Dewi ganggu”.(Sebenernya bukan takut ganggu, tapi kayaknya Dewi pulsanya udah habis buat nelpon Chevi, atau kalo gak dia kebelet pipis).
“Oh iya…gak apa-apa, Chev malah seneng bisa ngobrol sama Dewi, kapan-kapan maen ke Bandung ya?”.
“Insya Allah Chev, ya udah Assalamualaikum”.
Obrolan mereka lewat teleponpun berakhir, setelah itu Chevi pergi ke warung untuk makan siang. Di warung Chevi bertemu dengan sahabatnya Anwar, Chevipun gak membiarkan momen ini untuk ngehutang pulsa pada Anwar, (secara Anwar tukang pulsa di kampusnya). “Kebetulan disini aku ketemu kau War! Seperti biasa, aku mau ngehutang pulsa sama kamu yang sepuluh ribu ajah, udah tiga hari aku gak nelpon ataupun kirim sms sama pacarku”, tanpa basa-basi dia menepuk pundak Anwar.
“Eh, lu Chev, bikin kaget gue ajah lu! Tenang ajah ntar abis makan gue kirim pulsanye ke nomor lu, sekarang lu duduk deh makan bareng sama gue”.
Kemudian Chevipun duduk untuk makan siang bareng dengan Anwar yang dengan tak sengaja mereka bertemu di warung makan langganan mereka. Setelah selesai makan siang merekapun lekas menuju mesjid untuk shalat dzuhur, sepanjang perjalanan itu mereka berbincang-bincang mengenai mata-mata kuliah yang telahg disampaikan dosen-dosen mereka.
***
Malampun tiba, angin berhembus sejukkan suasana, rembulan bersama bintang-bintang hiasi langit nan indah karya sang Mahapencipta. Cahaya sang rembulan menembus dinding kaca memberikan cahaya redup pada kamar Chevi. Ketika Chevi smsan dengan Nuri yang tiada lain tiada bukan adalah kekasih hati belahan jiwanya, Dewipun ikut-ikutan nimbrung dalam momen lepas kangen mereka dengan mengirim sms juga. (Capek deh!!!).
“Ass,,,met malem, btw gi pha nie?pasti lagi belajar ya?”, pertanyaan Dewi yang dia jawab sendiri.(Aneh!!!).
“WWW, Ah gak, lagi nyantei kok, ada pha Wi?”, jawab Chevi.
“Gak, cuma pengen smsan ajah sama Chevi, gak apa-apakan?”.
“Ya gak apa-apa, cuma dengan pls Chevi yang apa-apa, he…b’canda denk”.
Tak lama kemudian sms Nuripun masuk, menjawab sms dari Chevi, langsung ajah Chevi baca smsnya nih isinya, “Gak apa-apa kalo gak da plsmah, yang penting cinta Chevi untuk Nuri masih ada kapan Chevi mau ngajak Nuri jalan-jalan di Bandung?waktu itu Chevi pernah janji”, (hu…huy…).
“Pasti donk, Insya Allah nanti kalo libur abis UAS, mudah-mudahan Nuri juga libur kerja”.
Setelah menunggu, beberapa menit kemudian sms Nuri kembali masuk di hapnya Chevi, sementara itu sms dari Dewi gak dibaca apalagi di jawab, sampai akhirnya mungkin Dewi merasa kesal dia nelepon Chevi. Berderinglah hpnya Chevi dengan nada dering lagu kesayangannya Lubang Hati milik grup band Letto.
“Halo, Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam, aduh maaf Wi smsnya belum di jawab, barusan lagi smsan juga sama Nuri”.
Chevi belum selesai bicara, Dewi menutup teleponnya, kemudian Chevipun menjawab sms Dewi namun Dewi tak membalasnya, hingga dia selesai melepas kangen dengan Nuri. Chevi tak merasa aneh dengan sikap Dewi tadi, namun sebagai pembaca, kamu harus tahu donk kalo cewek udah suka terus dia cemburu itu gejalanya kayak gitu tadi. (bener gak?).
***
Hingga akhirnya pagipun tiba, Chevi terbangun dari mimpinya, kemudian melangkahkan kakinya meuju kamar mandi dan mengambil air wudlu. Dibasuh seluruh anggota badannya, sejuk yang dia rasakan pagi ini, setelah berwudlu Chevi kembali masuk kamar kostan untuk menunaikan shalat subuh.
Setelah selesai shalat subuh, hpnya kembali berdering, ketika dilihat satu sms masuk dari Nuri. “Met pagi pak!” singkat.
“Met pagi juga, dah seger nih?”, lom berangkat kerja Nur”, jawab Chevi via sms.
“Ini juga lagi di jalan Chev.Kul jam berapa Chev?”
“ Sekarang, tapi lom mandi.”
“Ya udah mandi ajah dulu, ntar smsan lagi, Nuri takut ganggu.” Penuh pengertian.
Romantisme dua remaja yang tengah dimabuk cinta ini ternyata sudah berjalan hampir tiga tahun, yaitu sejak duduk di bangku kelas dua SMA, pantas saja ketika Chevi dan Nuri harus dipisahkan oleh tempat begitu hampa yang mereka rasakan, namun hal itu tak mengurangi rasa cinta yang mereka jalin. (gile bahasanya…!ampun, kayak sastrawan beken ajah).
Haripun berjalan terasa cepat, lelah yang kini Chevi rasakan, secara gitu dia kuliah dari pagi ampe sore (ceritanya…). Malampun tiba Nuri kembali mengirim sms pada Chevi, namun sayang semilyar kali sayang, Chevi sudah tertidur pulas dan tak mendengar suara hpnya berdering. Akhirnya Nuri yang berada di kamar (di rumahanya donk…) merasa kesal dan bosan hingga dia kayaknya marah pada Chevi karena smsnya gak di jawab.
Hingga keesokan paginya Chevi menjawab smsnya dan menjelaskan apa yang terjadi, namun Nuri yang kayaknya masih marah, kesel and sebel gak menjawab sms dari Chevi dan tidak mengangkat teleponnya. (aduuuh kasihan…) Tapi ternyata setelah beberapa menit Nuri mejawab smsnya Chevipun kembali senang namun kini giliran Chevi yang ngambek sama Nuri. (Ah…ngambek melulu, bungkus ajah deh ceritanya).
***
Sebulan berlalu, kisah cinta Chevi dan Nuri belum berakhir, namun sesuatu kembali menggoncang hubungan mereka ketika Dewi yang sebelumnya pernah nimbrung dalam kisah ini kembali bertamu dalam cerita. (monggo wae..).
Petaka itu mulai menyelimuti kisah cinta Chevi dan Nuri, mulanya Dewi kembali menghubungi Chevi.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam.” jawab Chevi di telepon.
“Chevi apa kabar?.”
“Alhamdulillah Wi sehat, kamu gimana?, tumben nelpon lagi, hehe…”
“Kok…gitu? Keberatan ya Dewi nelpon?, alhamdulillah sehat.”
“B’canda Wi.”
“Gimana kuliahnya Chev?.”
“Makin pusing ajah Wi.”
Setelah hampir setengah jam Dewi nelepon akhirnya pulsa Dewi abis juga, dan ini adalah pertanda baik bagi Chevi karena dia terlepas dari penyakin budeg karena di telepon Dewi. “Chev udah dulu ya? Dewi dipanggil sama ibu”, Dewi memberikan alasan. “Oh ya udah, Chev juga mau siap-siap dulu.” Jawabnya basa-basi.
Pagi berakhir, siang berjalan, senja menyapa, Chevi menunggu sms dari Nuri. Tampaknya Chevi sudah rindu medengar suara dan canda serta tawa Nuri. Dalam hatinya bergejolak rasa penuh tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Nuri, sudah seminggu ini dia gak ngasih kabar padanya. Hingga akhirnya hp Chevi berdering tanda sms masuk, Chevi kemudian membuka smsnya namun sms yang masuk bukanlah dari seseorang yang dia tunggu dan rindu.
Dewi kembali mengirim sms, namun yang membuat Chevi kaget dan mencengangkan adalah dalam sms itu Dewi mengungkapkan tentang persaannya pada Chevi. Tanpa Chevi sadari ternyata teman waktu duduk di bangku smp itu sudah lama menaruh hati padanya. Chevi merasa bingung dan kalang kabut mendengar pernyataan Dewi, baru kali ini ada wanita yang berani mengungkapkan perasaannya pada Chevi.
“Chev, dah terlalu lama Dewi memendam rasa ini sama kamu, kalo kamu tahu sudah 5 tahun dari kelas 2 smp Dewi memendam perasaan ini hingga malam ini Dewi memberanikan diri, lancang bilang sama kamu kalo Dewi punya perasaan yang lebih bukan sekedar teman sama kamu, Dewi berharap kamu bisa mengerti dari dulu, namun sikap yang Dewi tunjukkan di mata kamu tak ada artinya.”
“Malam ini Dewi harap kamu bisa ngerti, dan tahu bagaimana perasaan Dewi sama kamu, Dewi gak bisa nyimpan terlalu lama lagi rasa ini.” panjang itulah sms yang dikirim oleh Dewi untuk Chevi.
Setelah membaca sms-sms dari Dewi Chevipun tahu apa yang sebenarnya ingin dia katakan sebelum perpisahan smp dulu, mungkin waktu itu ingin mengatakan hal yang sama dengan sekarang andai saja waktu itu Robi tak memotong pembicaraan Dewi dan kemudian mengajak aku pergi.
Chevi semakin bingung atas apa yang dilakukan Dewi, namun Chevi mencoba memberi penjelasan pada Dewi bahwa dia kini telah memiliki Nuri, Chevi sangat mencintai Nuri bahkan suatu saat nanti dia berharap Nuri adalah yang akan mendampingi hidupnya.
Walaupun terasa sakit di hati Dewi mencoba mengerti akan keadaan tersebut. Namun keadaan tersebut hanya sementara, Dewi terus memojokkan Chevi dan membuat Chevi kebingungan dengan masalah ini, disisi lain Chevi tak ingin ada pihak yang tersakiti.
Walaupun Nuri tak pernah tahu sebelumnya tentang masalah ini, lambat laun akhirnya Nuripun tahu tentang masalah ini, bahkan sebelum Chevi tahu Nuri telah mengetahuinya lebih dulu, itulah sebabnya mengapa waktu itu Nuri tak menghiraukan sms dan telepon dari Chevi. Namun Nuri berbeda dengan Dewi, akhirnya Nuri mencoba untuk mengerti tentang hal ini, dia percaya pada Chevi bahwa dialah yang dipilih Chevi. (Wuiih…dah mulai serius nih ceritanya…lanjut mang).
***
Kini seminggu sudah, Chevi mencoba merenung untuk mencari jalan keluar dari maslah-masalahnya, hingga akhirnya Chevi menelpon Dewi dan meminta maaf jika dia tak pernah memiliki perasaan yang sama dengan Dewi, yang dia cintai dan sayangi saat ini adalah Nuri.
Chevi mencoba memberikan keputusan yang bijak, jika cinta tak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan, (ehm…ehm…puitis banget), namun prinsip ini tak berlaku untuk Dewi, dia ingin cintanya tak bertepuk sebelah tangan, dia tidak berpikir dengan perasaan orang lain, (head hard alias keras kepala eta budak).
Dewi tak menghiraukan penjelasan Chevi, dia marah hingga kemudian jatuh sakit. Chevi merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Dewi. Namun Chevi dan Nuri untungnya masih bisa mempertahankan hubungan mereka, bahkan Nuri selalu mencoba bersikap bijak mengahadapi masalah tersebut. Chevi merasa senang dengan sikap yang ditunjukkan kekasihnya itu dan itu jugalah yang kini membuatnya merasa lebih tenang. (wow…kasihan deh Dewi).
***
Detik berganti menit, menit berganti jam, ham berganti hari, hari berganti minggu, akhirnya stu minggu sudah cerita kemelut cinta ini berjalan (aduh…kasihan Chevi dan Nuri). (Tolong dibaca seperti Veni Rose) Akankah Chevi bisa mempertahankan cintanya dengan Nuri, baca terus karena kami akan mengupasnya setajam… golok. (ah gak lucu…).
Orang bilang sabar itu ada batasnya, namun sebenarnya yang namanya sabar tak ada batas. Itulah yang kini mendera pasangan dari Chevi yakni Nuri, kini dia meras terganggu dan gerah dengan kisah cintanya.
Chevi semakin bingung diantara dua cinta ini, tanpa dia sadari kuliahnyapun sedikit terganggu. Kini dia tak bisa konsen dengan kuliahnya. Hingga suatu saat dia meutuskan untuk menemui Nuri ke rumahnya. Dan sesampainya disana, Nuri kaget melihat sosok Chevi yang berada di depan pintu rumahnya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam, Chevi kenapa gak bilang dulu kalo kamu mau ke rumah?”
“Aku sengaja gak bilang sama kamu, takutnya kamu masih kesel dengan masalah yang menimpa hubungan kita, aku bingung Nur.”
“Sebenarnya Nuri juga ngerasa hal yang sama, tapi harus gimana lagi, sekarang Chev harus bisa tegas sama Dewi.”
“Chevi juga tahu Nur, tapi Dewi gak pernah mau mengerti, dia egois.”
“Bagaimana tidak!”, Nuri memotong pembicaraannya.
“Dewi menyukai kamu dari kelas dua smp Chev, selama ini dia memendam perasaan itu, cinta dia sangat besar sama kamu, hingga saat ini dia gak pernah punya pacar, karena bagi dia kamu yang terbaik.” (ah…Nur gak laku ajah ci Dewi itu).
“Chev juga tahu, tapi seharusnya dia mengerti dan mencoba untuk mencintai orang lain. Oh iya Nur, maksud kedatangan Chevi kesini, Chevi mau minta maaf sama kamu kalo selama ini sering bikin kamu kesel dan marah.”
“Maksud kamu apa Chev?”
“Begini Nur, kamu tahukan kalo Chev sayang sama kamu hingga detik ini pun dan mungkin seterusnya, tapi! (tarik nafas…) kayaknya untuk saat ini kita harus putus Nur.”
“Jadi kamu pilih Dewi, kamu jahat Chev!.” Nuripun menangis (Oooooooh….)
“Gak, Chev gak milih Dewi, Chevi juga bakal ngomong sama Dewi kalo untuk saat ini aku memutuskan untuk tidak punya pacar dulu Nur, aku cuma ingin kamu tahu kalo aku masih mengharapkan kamu suatu saat nanti, dan aku juga ingin kamu mau menerima aku lagi. Tapi untuk saat ini aku gak mau ngecewain ibu sama bapak yang sudah memberikan kepercayaan untuk menuntut ilmu”
“Chev harus mempertanggung jawabkannya sama mereka. Kamu tahu dengan masalah ini kuliah Chev jadi tertanggu karena mikirin ini, Chev minta maaf sama kamu Nur.” (Oooooh…lagi, mengharukan).
Tak ada kata yang terucap dari mulut Nuri, tanpa basa-basi dia menutup pintu rumah, dan membiarkan Chevi yang duduk di teras depan sendiri. Chevi tak mengejar Nuri, kemudian dengan hati yang bersedih Chevi menuju rumah Dewi yang tak jauh dari kota Nuri. Hal yang sama dia ucapkan pada Dewi.
Setelah mendengar penuturan Chevi yang gara-gara dia mereka berdua putus dan Dewi tetap sendiri tanpa mendapatkan cinta Chevi, akhirnya Dewi merasa bersalah dan meminta maaf pada Chevi dan Nuri. Namun keputusan yang Chevi ambil ternyata membuatnya lebih tenang dan bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya lagi, Chevi memilih berteman dengan Dewi begitu juga dengan Nuri.
Chevi memang masih mencintai Nuri begitu juga dengan Nuri, namun dia sadar bahwa kepercayaan dari orang tuanya harus menjadai prioritas utama, dengan begitu cintanya pada Nuri jika Allah mengizinkan mereka menjadi jodoh maka akan kembali dipersatukan, itulah tampaknya yang Chevi tanamkan dalam hatinya.
*End*

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s